Ayong Lianawati, mahasiswa Program Doktor (S3) Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Surabaya, mengajukan proposal disertasi tentang pengembangan Model Bimbingan Self-Help berbasis MIND-REACT. Penelitiannya berfokus pada upaya meningkatkan resiliensi siswa dalam konteks post-traumatic growth (PTG). Topik ini dipilih karena dinilai relevan dengan kondisi remaja saat ini yang semakin banyak menghadapi pengalaman sulit.
Latar belakang penelitian ini berangkat dari meningkatnya pengalaman traumatis pada remaja. Trauma tersebut bisa berasal dari kekerasan, kehilangan orang terdekat, bencana, atau tekanan emosional yang berat. Situasi-situasi ini sering meninggalkan dampak yang tidak sederhana bagi kehidupan sehari-hari siswa.
Meski sebagian remaja tampak bisa kembali berfungsi seperti biasa, banyak yang masih menyimpan sisa-sisa luka psikologis. Gejala seperti sulit mengatur emosi, munculnya kilas balik trauma, atau menarik diri dari lingkungan sosial masih sering ditemukan. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan saja belum tentu cukup.
Karena itu, dibutuhkan pendekatan yang tidak hanya fokus pada penyembuhan, tetapi juga pada pertumbuhan setelah trauma. Siswa perlu dibantu untuk menemukan kembali kekuatan dirinya. Dari sinilah gagasan pengembangan model bimbingan berbasis MIND-REACT mulai dirancang.
Model MIND-REACT mengintegrasikan empat pendekatan utama, yaitu mindfulness, regulasi emosi, acceptance, dan commitment. Keempat pendekatan ini disusun menjadi satu kerangka yang saling melengkapi. Tujuannya agar siswa memiliki cara yang lebih utuh dalam menghadapi dan mengelola pengalaman traumatis.
Model ini dirancang sebagai strategi self-help terbimbing yang tetap ramah bagi siswa. Melalui pendekatan ini, siswa diajak terlibat aktif dalam memahami pengalamannya, memaknai kembali peristiwa yang dialami, dan melatih cara-cara coping yang lebih sehat. Dengan begitu, proses pemulihan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga tumbuh dari dalam diri siswa sendiri.
Secara umum, penelitian ini bertujuan menghasilkan model bimbingan yang aplikatif dan berbasis bukti. Harapannya, siswa tidak hanya pulih dari dampak trauma, tetapi juga mampu bangkit, menemukan makna hidup, dan menjadi lebih tangguh secara psikologis. Hasil penelitian ini juga diharapkan bisa menjadi pegangan praktis bagi konselor dan guru BK dalam mendampingi siswa pascatrauma.